Kayu Tanam, LeaderNusantara.com — Memasuki usia satu abad, Institut Nasional Syafei (INS) Kayu Tanam tidak hanya merayakan perjalanan sejarah, tetapi juga menghadapi tantangan untuk menjaga relevansi pemikiran pendirinya, Mohammad Syafei, di tengah perubahan dunia pendidikan. Warisan tentang kemandirian, kreativitas, keterampilan, dan pembentukan karakter menjadi gagasan penting yang perlu terus dihidupkan lintas generasi.
Refleksi tersebut mengemuka dalam workshop bertajuk “Satu Abad INS Kayu Tanam: Mohammad Syafei dalam Ingatan” yang digelar dalam rangka peringatan HUT ke-100 INS Kayu Tanam, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk menelusuri kembali perjalanan lembaga, mendalami pemikiran sang pendiri, sekaligus membahas tantangan inovasi pendidikan di masa depan.
Salah seorang narasumber, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, membawakan materi “Membangun Memori, Merawat Masa Depan.” Ia mengangkat pentingnya ingatan kolektif dalam menjaga nilai-nilai sejarah agar tetap memiliki makna bagi generasi sekarang dan mendatang.
Sejarah, dalam konteks perjalanan INS Kayu Tanam, bukan sekadar dokumentasi masa lalu. Pemahaman terhadap gagasan dan perjuangan para pendiri menjadi pijakan untuk mengevaluasi perjalanan lembaga sekaligus merumuskan arah pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Perspektif historis turut disampaikan Gusni Asnan, staf pengajar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, melalui materi “Inovasi Sebuah Lembaga Ilmu Pendidikan: Refleksi 100 Tahun INS.”
Pembahasan ini menempatkan perjalanan satu abad INS sebagai momentum untuk melihat bagaimana identitas dan nilai dasar lembaga pendidikan dapat dipertahankan tanpa menutup diri terhadap perubahan.
Diskusi juga menghadirkan Elvira Chairil, ahli waris Mohammad Syafei sekaligus Ketua Museum Mohammad Syafei, serta Drs. Yasrizal, M.Pd., mantan guru INS Kayu Tanam. Kehadiran keduanya memperkaya pembahasan melalui perspektif keluarga, pelestarian warisan pemikiran, dan pengalaman langsung dalam perjalanan pendidikan di INS.
Pendidikan bukan sekadar mengejar prestasi akademik
Mohammad Syafei dikenal melalui gagasan pendidikan yang menekankan kemandirian, kreativitas, keterampilan, dan pembentukan karakter. Pendidikan, dalam semangat pemikirannya, tidak cukup hanya membuat peserta didik menguasai pengetahuan, tetapi juga harus membekali mereka dengan kemampuan berpikir, berkarya, dan menghadapi persoalan kehidupan secara mandiri.
Gagasan tersebut tetap relevan ketika dunia pendidikan dihadapkan pada perubahan teknologi, tuntutan keterampilan baru, dan kebutuhan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga kreatif serta mampu beradaptasi.
Karena itu, peringatan satu abad INS Kayu Tanam semestinya tidak berhenti pada seremoni atau kebanggaan terhadap masa lalu. Tantangan yang lebih mendasar ialah menerjemahkan warisan pemikiran Mohammad Syafei ke dalam praktik pendidikan yang nyata, baik melalui metode pembelajaran, pengembangan keterampilan, maupun pembentukan karakter peserta didik.
Usia 100 tahun menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari panjangnya perjalanan sejarah, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan nilai-nilai luhur sekaligus menjawab kebutuhan generasi baru.
Menggali pemikiran Mohammad Syafei berarti merawat warisan intelektual yang melampaui zamannya. Namun, merawat warisan itu membutuhkan lebih dari sekadar mengenang nama dan perjuangannya. Diperlukan upaya berkelanjutan agar gagasan kemandirian, kreativitas, dan keterampilan benar-benar hidup dalam proses pendidikan.
Satu abad INS Kayu Tanam bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan momentum untuk memperbarui komitmen terhadap cita-cita pendidikan bangsa.
Sebab, warisan pendidikan yang paling berharga bukan hanya sejarah yang dikenang, melainkan pemikiran yang terus diterapkan dan manfaatnya dirasakan oleh generasi mendatang.


















Hari ini : 1955
Total Kunjungan : 3079698
Who's Online : 135
Discussion about this post