Tanjungpinang (Leadernusantara.com) -Provinsi Kepulauan Riau merupakan yang ke 32 di Indonesia, boleh dikatakan tergolong muda, jika dibandingkan dengan provisi lainya, dengan tekat yang kuat para tokoh elit politik dan seluruh elemen masyarakat Kepri berjuang dari kabupaten Kepulauan Riau, niat ingin menjadikan Provinsi Kepri, hingga terwujud pada tgl 25 Oktober 2022 sesuai Undang-undang (UU) No 25 tahun 2022.
Secara estafet kepala daerah silih berganti, saat ini dinakhodai Ansar Ahmad SE.MM yang merupakan putra daerah kepri sendiri, bersama masyarakatnya terus berjuang untuk daerah, tanpa mengenal lelah demi tercapainya impian masyarakat, agar kepri menjadi terdepan, maju dan berkembang di segala bidang, sesuai moto “Berpancang Amanah, Bersauh Marwah.
Dengan usia 19 tahun Provinsi Kepulauan Riau berdiri, telah muncul menjadi salah satu provinsi pemekaran baru di Indonesia yang patut diperhitungkan dan menjadi contoh atas keberhasilannya bagi Provinsi lainnya.
Kepri saat ini, ibarat pilosofi orang minang, “ Kilek Baliuang Telah ke Kaki, Kilek Cermin sudah kemuka” dengan arti, kemajuan daerah disegala bidang sudah mulai kelihatan, seperti pembangunan infrastruktur, ekonomi, pendidikan dan bidang-bidang lainnya.
Sesuai amanah UUD 1945, tertuang dalam pasal 33 tentang perekonomian dan kesejahteraan sosial. salah satu upaya untuk mewujudkannya, dengan cara memperpendek rentang kendali, kepengurusan administrasi, bisa cepat, mudah dan murah.
Merupakan salah tujuan masyarakat Kepri yang terdiri dari 7 Kabupaten dan Kota ini, ingin memisahkan diri dari Provinsi Riau, yang dulu sebagai induknya. Upaya perjuangan menjadi Provinsi sendiri selesai tuntas, meskipun kenyataannya tidak semua setuju dimasa itu.
Keberadaan Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu daerah terdepan di Indonesia, secara geografisnya, berbatasan lansung dengan tiga negara, yakni Malaysia, Singapura dan Vietnam, maka sudah sepatunya Provinsi Kepri bersolek, karena merupakan salah satu sasaran kunjungan wisata di Tiga Negara tersebut.
Disebelah Utara berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi, disebelah Barat berbatasan dengan Singapura, Malaysia, dan Provinsi Riau, sebelah Timur berbatasan dengan Malaysia, Brunei dan Provinsi Kalimantan Barat.
Selain letak geografisnya yang menguntungkan karena berada di pintu masuk Selat Malaka, dari sebelah Timur juga berbatasan dengan pusat bisnis dan keuangan di Asia Pasifik. Maka masyarakat Kepri bercita-cita ingin mewujudkan salah satu pusat pertumbuhan perekonomian nasional, dengan mempertahankan nilai-nilai Budaya Melayu yang didukung sumber daya masyarakat yang memiliki daya saing yang tinggi.
Kepri memiliki 5 kabupaten dan 2 kota. Masing-masing kota Tanjungpinang, kota Batam, kabupaten Bintan, kabupaten Karimun, kabupaten Natuna, kabupaten Lingga dan kabupaten Kepulauan Anambas. Setiap kabupaten dan kota disekat oleh hamparan laut, hanya bisa dikoneksikan dengan transportasi air.
Setiap kabupaten dan kota yang ada di Kepri memiliki potensi alam masing-masing yang bisa dieksplorasi guna menumbuhkan perekonomian, dengan muara mensejahterakan masyarakatnya, meskipun Kepri dibatasi laut yang jauh lebih luas dibanding daratan, 96 persen berbanding 4 persen.
Antara kabupaten dan kota yang satu dengan lainnya dipisahkan oleh laut, tentu untuk membangun sebuah daerah kelautan, jelas membutuhkan dana dan tenaga yang serba ekstra, tidak dapat dipungkiri, di Kepri masih terjadi ketimpangan dalam banyak hal, diantara satu daerah dengan lainnya.
Yang paling mencolok adalah dalam pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosialnya, sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah, Gubernur Kepulauan Riau, selalu mendapatkan keluhan dari masyarakat atas kondisi ini.
Seakan-akan hanya Kota Batam yang diperhatikan, sehingga Batam lebih maju dan berkembang dibanding kabupaten dan kota lainnya, untuk meminimalisir anggapan yang tidak berimbang di tujuh Kabupaten/Kota diwilayah Kepri, berbagai cara dilakukan oleh Pemprov Kepri, agar pembangunan bisa merata.
Pemerataan dan kesejahteraan, adalah kata kunci yang harus diwujudkan bersama-sama, maka rakyat Kepri kembali diajak merenung agar pertumbuhan perekonomian tidak hanya berpusat di kota Batam saja, melainkan bisa menjalar ke Kabupaten dan Kota yang lain.
Dengan gagasan untuk membangun jembatan yang menghubungkan Kota Batam dan Pulau Bintan atau jembatan Batam-Bintan, dapat diyakini akan bisa membuka keterisoliran masyarakat, mampu mempercepat mobilisasi barang, orang dan uang, mendongkrak perekonomian Kepri secara cepat dan merata.
jembatan Batam-Bintan ini nantinya akan menjadi solusi tepat dalam upaya mempercepat pemerataan pembangunan dan perekonomian di Provinsi Kepri, sejalan dengan rencana undang-undang (RUU) Daerah Kepulauan, disitu ditegaskan bahwa masa depan Indonesia adalah laut, sehingga tidak bisa hanya mengandalkan luas daratan saja.
Hal itu tentunya Kepulauan Riau yang memiliki pulau-pulau terluar terbanyak di Indonesia yang perlu diperhatikan serta mendapat peran yang sama untuk Indonesia. Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad mengatakan, bahwa untuk mewujudkan jembatan Batam-Bintan, cikal-bakal jembatan terpanjang di Indonesia.
Terkait hal itu rakyat Kepri harus Kembali merapatkan barisan guna memperjuangkannya, sebuah gagasan tersebut tidak mudah dan tidak murah, butuh banyak pengorbanan didalamnya, untuk mencapai impian kita inginkan bersama, kata Ansar serius.
Bagi Ansar, Bicara tentang kemaritiman tentu salah satu menyangkut kewibawaaan bangsa Indonesia, Laut Indonesia terutama yang berada di wilayah Kepri, berbatasan langsung dengan negara-negara lain, sudah seharusnya dihiasi dengan infrastruktur yang ikonik juga bermanfaat bagi masyarakat banyak, Salah satu jawabannya, iyalah Jembatan Batam-Bintan, tutur Ansar.
Keinginan masyarakat Kepri untuk mewujudkan jembatan Batam-Bintan ini sudah lama sekali, namun perjuangan untuk mewujudkannya mengalami pasang surut, seiring dengan silih bergantinya kepemimpinan di daerah. Kita selalu menganggap jembatan ini sebuah mimpi yang visioner dan perlu diwujudkan.
“Ini adalah mimpi besar masyarakat Kepri yang harus sama-sama kita beli, harus diwujudkan menjadi nyata, kita persembahkan untuk Indonesia,” kata Gubernur Kepri Ansar Ahmad.
Menurut mantan Bupati Bintan yang menjabat selama dua periode dan juga mantan anggota komisi V DPR RI ini, memang tidak mudah membangun mimpi se ‘wah’ jembatan Batam-Bintan, namun Ansar sangat yakin, tidak ada yang tidak mungkin jika bersama dilakukan dengan sungguh-sunguh, serta kerja keras secara kontinyu.
“Yang terpenting kita berusaha dan berdoa. Masalah hasil pasti tidak pernah menghianati usaha. Jangan perenah menyerah, kita tetap bekerja keras bersama-sama. Masing-masing masyarakat lakukan sesuai dengan kapasitasnya. Bagi masyarakat yang sudah ikhlas menyerahkan tanahnya untuk diganti rugi, itu juga merupakan bagian dari andil dalam mewujudkan jembatan Batam-Bintan ini,” tegas Ansar.
TERPANJANG, ICONIC & USABLE
Jembatan yang akan menghubungkan Pulau Batam dan Pulau Bintan akan menjadi jembatan terpanjang di Indonesia. Yakni akan dibangun dengan panjang 14,74 kilometer dengan nilai investasi sekitar Rp16,91 triliun, pembiayaannya dilakukan dengan skema, Kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Adapun rinciannya, sepanjang 7,98 kilometer dibangun oleh pemerintah secara Viability Gap Fund (VGF) dengan anggaran sebesar Rp13,57 triliun. Sedangkan untuk sepanjang 6,67 kilometer akan dibangun dengan dana pinjaman luar negeri, senilai USD300 juta atau ekuivalen, atau setara Rp3,34 triliun. Adapun final busines case (FBC) ini telah disusun oleh Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Bappenas RI, akan di finalisasi di Februari 2022.
Menurut Gubernur Ansar, dibangunnya jembatan Batam-Bintan ini juga inline dengan program pemerintah pusat dibawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang akan menjadikan Kepulauan Riau sebagai Kawasan Strategis Perekonomian Nasional (KSPN). Dimana nantinya jembatan ini diharapkan dapat memudahkan mobilitas kendaraan dari kedua wilayah.
Selain melancarkan mobilitas kendaraan. Juga akan memperlancar mobilitas orang, barang dan uang, muaranya bisa meningkatkan speed pertumbuhan perekonomian kedua wilayah, selanjutnya menjalar ke wilayah-wilayah lainnya.
“Sebagai kawasan yang ditunjuk oleh Pemerintah Pusat menjadi Kawasan Strategis Perekonomian Nasional, tentu saja Kepri harus didukung dengan berbagai infrastruktur penunjang yang memadai. jembatan Batam-Bintan ini nantinya akan menjadi jembatan yang terpanjang di Indonesia, iconic dan usefull bagi masyarakat Kepri dan tentu menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia,” ujar Ansar.
Jembatan Batam-Bintan ini sudah mulai dirancang oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sejak tahun 2005 lalu, kemudian diperbarui tahun 2010. Jembatan ini dirancang untuk bisa dilewati kendaraan dengan kecepatan hingga 80 kilometer per jam, juga akan memiliki vertical clearance yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan, yaitu Batam-Tanjung Sauh setinggi 27 meter, Tanjung Sauh-Batam setinggi 40 meter. Penetapan vertical clearance tersebut bertujuan agar tidak mengganggu aktivitas lalu-lalang kapal-kapal besar nantinya.
Tidak hanya itu, jembatan ini juga didesain dengan system satu on/off ramp yang berlokasi di Pulau Tanjung Sauh. Lajur jembatan memiliki lebar 3,6 meter, bahu luar selebar 3 meter dan bahu dalam selebar 1,5 meter, serta lebar median 4 meter. Jika tidak ada aral-melintang konstruksinya akan dilakukan tahun ini, diperkirakan bisa beroperasi 3 tahun setelahnya, atau tahun 2025.
Gubernur Ansar juga sangat optimis jembatan Batam-Bintan ini akan menjadi solusi tepat dalam upaya mempercepat pemerataan pembangunan dan perekonomian di Provinsi Kepri. Karena dengan adanya jembatan ini akan lebih mempercepat lalulintas dan melancarkan kendaraan dan orang.
Sehingga hal tersebut akan berdampak pula pada cepatnya alur barang dan uang yang muaranya akan terwujud pemerataan perekonomian serta kesejahteraan yang adil dan pendidikan yang setara.
“Jembatan ini telah menjadi mimpi kita Bersama. Oleh karena itu, mari kita wujudkan bersama-sama. Impian yang besar tentu perlu modal besar. Mari kita beli mimpi yang visioner ini, lalu kita persembahkan untuk Indonesia,” kata Ansar menyemangati, sumber Kominfo Kepri (Leader)









Hari ini : 1926
Total Kunjungan : 2860508
Who's Online : 126
Discussion about this post